Etika Sebar Foto Anak di Media Sosial

Sebagai orang tua zaman now, kita pasti sering tergoda untuk membagi segala tingkah si kecil di medsos. Eh tapi sebaiknya orangtua juga perlu sadar dengan risikonya. Salah-salah, media sosial bisa jadi bumerang yang dapat mengancam keselamatan anak.
.
Foto anak tanpa busana yang kita anggap wajar, bisa menimbulkan kesan ‘berbeda’ pada pengguna internet lainnya. Parentalk pun berbincang dengan Pendiri Lembaga Literasi Media Sosial Literos.org Nukman Luthfie.
.
“Kalau kita posting foto anak-anak, kita enggak tahu postingan mana yang dapat merangsang orang-orang dengan kelainan itu. Kalau kita posting dan ada yang terangsang, dia akan mencari di mana anak ini berada. Mereka enggak lihat umur, lho. Dari yang kecil, ada yang masih bayi aja diperlakukan tidak senonoh. Apa kita mau mengekspos anak kita dengan hal-hal begitu?” jelas mas @nukman kepada Parentalk.
.
Semoga kita adalah orangtua yang bijak menggunakan medsos, demi keselamatan anak-anak kita 😁
#Parentalk #MillennialParenting#socialmedia #parenthacks

 

sumber:  Instagram Parentalk,ID

Blokir Bukan Solusi Pornografi, Pendidikanlah Jalan Keluarnya.

Banyak orang tua yang marah dan khawatir saat mengetahui bahwa dalam aplikasi pesan WhatsApp terdapat emoticon yang mengandung konten porno. Sebagian besar kemudian mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk memblokir pihak ketiga yang menjadi mitra penyedia emoticon tersebut.

Blokir itu langkah yang fatal. Dalam jangka pendek memang berhasil menutup akses GIF porno tersebut. Namun dalam jangka panjang, masyarakat kehilangan kesempatan memanfaat jutaaan emoticon lain yang lucu-lucu, menggemaskan, dan positig, hanya gara-gara ratusan emoticon porno.

Filtering adalah langkah yang lebih bijaksana. Kata-kata kunci terterntu yang terkait dengan pornografi disaring agar tidak menampilkan hasil. Sayangnya, hingga saat ini, fitur tersebut belum tersedia di WhatsApp, padahal di pemain Internet lain, terutama Google, tersedia.

Sambil mendesak WhatsApp, masyarakat seharusnya juga mau belajar agar melek digital. Ini dikatakan founder Literos, Nukman Luthfie di MetroTV.

Hindarkan Si Kecil dari Ancaman Kejahatan Siber

Berikut ini lima tip bagi para orangtua untuk menghindarkan si kecil dari ancaman cyber crime, seperti yang ditulis SmartMama:

1. Anak – anak di bawah usia 13 sebaiknya dilarang memiliki akun sosial media atas nama sendiri, untuk mencegah kemungkinan terburuk terjaring sindikat pornografi anak online.

2. Jika sudah terlanjur memiliki akun sosial media, segera ambil alih & kontrol penggunaannya. Mamas dapat berbagi akun dengan mereka agar dapat segera mendeteksi interaksi sosial yang sedang dilakukan.

3. Disarankan bagi orang tua untuk tidak mengunggah foto anak – anak di akun media sosial, atau menunjukkan lokasi sekolah & keberadaan diri yang berpotensi mengundang pelaku.
4. Lebih terbuka & menjadi sahabat bagi anak – anak, tidak hanya meningkatkan frekuensi komunikasi, tetapi juga membahas topik – topik sensitif seperti pendidikan seks dan menyeimbangkan aktivitas online nya dengan kegiatan luar ruang.

5. Jika mamas mengetahui praktek cyber crime, segera laporkan ke polisi. Dalam hal ini Nukman menambahkan, “Para pelaku harus mendapatkan efek jera agar menghentikan aksinya. Hal ini menjadi penting untuk digaris bawahi karena aktivitas yang mereka lakukan tidak kasat mata seperti tindak kejahatan secara fisik. Jadi, mari laporkan kepada pihak yang berwajib.” Poin penting untuk dilakukan agar kita semua, terutama Si Kecil terhindar dari cyber crime adalah menciptakan suasana damai dan positif dalam lingkup dunia digital, “Kalau warga di dalamnya aktif menyuarakan kedamaian, bukan tidak mungkin angka kejahatan dapat diturunkan,” tutup Nukman.